Di perjalanan menuju Bali, tepatnya di daerah Probolinggo. Desember jadi bulan yang dianggap wajar bagi kebanyakan masyarakat disana untuk mengatakan selamat datang pada hujan. Dalam perjalanan yang biasanya dieram oleh hawa panas. Ketika itu sebaliknya. Aku merasakan dingin yang melebihi, karena AC mobil yang turut menyumbang hawa itu.
Dalam perjalanan, mobil melaju perlahan menghalau kabut yang menumpuk. Beberapa meter arah utara dan selatan mobil seperti memberi petak menikmati panorama bukit. Disamping mobil begitu syahdu seolah dilindungi makhluk tinggi ramping yang melindungi, menjaga, memagari laju mobil agar tidak salah arah. Makhluk hidup itu dibiar jenjang dengan jambul daun dibiar liar. di sisi daun mengintip cahaya yang malu-malu menampakkan. Yang terlihat seperti outerglow menghias pinggiran daun.
kabut tidak tanggung-tanggung memasok pasukannya, terapung, menindih langit, melumuri. Biru langit tampak berkaca-kaca. Subhanallah. aku seperti terjerembab, terjebak dalam dunia yang sama sekali asing bagiku. Kontras dengan duniaku sebelumnya. Seperti pada film Narnia yang masuk lemari ajaib, bingung, namun menyimpan keindahan bertingkat-tingkat.
Suasana itu tidak berlangsung lama, namun melekat penuh kedamaian, sejuk, langgeng bermasa-masa. Bibirkupun tak tahan mengatakan pada Azam yang menikmati hal yang sama. Matanya tidak lepas menembus kaca mobil yang sesekali dilap karena berembun. “kau tahu dit, saat ini kau sedang menikmati duniamu” matanya tidak melepas pemandangan yang bertolak dari pandanganku. “maksudmu Zam” sahutku dengan maksud membangukan dia dari kata-kata liar. “dunia kesan yang dimiliki olehmu dan olehku juga” Azam melanjutkan. “bicara apa kamu ini” aku melakukan hal yang sama seperti Azam, meracau sambil memperhatikan pemandangan diluar.
“jauh hari sebelum kau melihat keindahan ini, sang pencipta telah membuatnya untukmu” Azam kembali berkata setengah berbisik, masih tetap tatapannya keluar sedikit mengerutkan kening. Kali ini aku menepuk bahunya “woi, kamu sudah terlalu jauh Zam!!!”. “Dit andaikan pohon, langit, beserta hiasan lain yang kita rasakan dan kita lihat hadir membentuk dirinya diluar kita, mungkin mereka akan bersembunyi dengan segala kerendahan atau keangkuhannya, bangga” Azam masih berkata-kata, acuh.
Aku semakin tidak faham mengikuti kata-katanya. “andai bagian dalam ini tidak mengenal warna, tidak mengenal garis atau titik. Atau tidak terampil memadukan warna, mengenal sisi-sisi keindahan, maka sedikitpun ia tak lebih sebagai barang rongsokan tak bernilai guna” azam sambil menunjuk kepala belakang. Aku mulai hanyut dalam pembicaraannya. “fikirkanlah bagaimana ia bekerja memberi sumbangsih dari apa yang kau lihat”.Azam meneruskan. Aku mulai masuk dalam percakapan yang kuanggap igauan itu.”ia begitu teliti mengarsir gradasi warna secara lembut, ia begitu tahu resapan rasa yang kita idamkan” Azam semakin serius. “terlalu sederhana jika kita mengetahuinya dari segi kerja merespon sinyal dari indra kita. Lebih dari itu ada keindahan yang rumit kita jelaskan dengan perkara biologis” Azam menunjuk-nunjuk kembali kepalanya.
“oh…” aku mengangguk setengah mengerti.”ia memberi kesan dari sinyal elektrik indra peraba, penghisapan, dan penglihatan kita. Kesan yang begitu cerdas mengklasifikasikan berbagai keindahan. Matapun tidak lepas dimanjakan oleh keterampilan kinerjanya menyulam warna-warna sehingga menghasilkan kombinasi warna. Indah. Kau tahu … muatan itulah duniamu itu. Dia menanam warna, rasa, bau, dan bentuk, untuk kau tempatkan pada posisi dan siasat yang tepat. Agar kau mendapat porsi kemegahanNya”. Aku semakin digusur oleh kata-katanya. “maksudmu semua yang ada diluar kita tidak ada artinya, jika bagian otak ini tidak merespon sinyal-sinyal elektrik itu, begitu” Edi menyela ditengah percakapan antara aku dan Azam. “dapat dikatakan demikian. Keindahan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang masih bisa merasakan proses foton berubah menjadi sinyal elektris ke sebuah titik mungil di bagian belakang otak. Sensasi yang kita dapatkan baru berarti manakala pusat indra menangkapnya. Tak terhitung dengan warna, rasa, atau bau apa ia menyimpan apik hal itu. Tahukah yang paling indah dari semua bentuk keindahan itu… semuanya telah tercipta untuk kita Dit” Azam baru menoleh ke arahku menatap baik-baik mataku sambil membetulkan kaca matanya.
“Dit keindahan itu bermuara dari isi ini” ia kembali menunjuk kepalanya. Kemudian Azam dengan cepatnya menyambar kepalaku seperti jurus totok “Makanya jangan istirahat terus ininya kalau kamu ingin lihat yang indah-indah”. Kepalaku seperti ditusuk-tusuk. Tapi Azam terus mendaratkan tangannya berkali-kali ke kepalaku. “Zam, sudah cukup!!!”. Azam tidak menghentikan ulah kerdilnya itu. Malah Azam semakin menjadi, merontokkan rambutku. Hal yang paling tidak dimengerti dari ulahnya, dia seperti kerasukan, tertawa lepas, sambil matanya berkaca-kaca. “Zam hentikan” aku membentaknya
Jurusnya seperti berbalik. Totokan itu seperti karma untuk dirinya. Ia langsung mematung. Mobilpun sejenak hening. Suara radio terdengar samara-samar mengalun. Azam membetulkan kaca mata dan mengusap matanya. Ia seperti terhentak oleh kejadian luar biasa. Semua tubuhnya sontak berhenti. Mukanya berubah memerah. Ia seolah sedang menahan sesuatu yang berat.
Akupun mulai menepuk lehernya agak keras supaya canda yang terbilang kekanak-kanakan, keterlaluan itu bisa dimulai lagi. Aku merasa bersalah, jika hentakan tadi membuatnya tak kembali seperti biasanya. Aku kembali menepuknya, dengan maksud agar tersengat kembali jiwa kanak-kanaknya untuk kembali bercanda denganku. Azam hanya menoleh dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
“sory Zam” aku minta maaf. Mukanya malah merunduk dan kembali mengusap matanya. “tidak apa” nadanya parau. “kenapa Zam?” aku setengah berbisik. “ditengah perbincangan tadi aku sudah ingin menangis Dit. tidak tahu, mengapa hal itu tiba-tiba saja datang”. “tidak mungkin Zam, pasti kamu menyimpan sesuatu, coba kamu ceritakan saja”. “ketika kita bicara masalah sinyal elektrik tadi, aku jadi teringat pada seseorang yang sangat dekat denganku. Ia begitu baik, teringat masa, saat saya terapung beberapa hasta diatasnya, lalu dipeluknya aku dengan penuh kehangatan.” Azam sedikit tersenyum memancar aura kesejukan. Akupun membalasnya dengan senyum ringan.
“namun sayang, ia meninggal di usia muda. Yang menyesakkanku, di akhir hayatnya itu, dia sama sekali tidak merasakan sentuhanku. Aku remas-remas kakinya, tidak pernah ia bereaksi sesuai harapanku. Ia malah menatap nanar dengan tubuh menjuntai tak berdaya. Melihatnya seperti tengkorak yang dilapisi kulit, tanpa daging. Itulah yang kusebutkan tadi. Semua materi diluar kita tak berarti apa-apa manakala pusat indra tak merespon foton yang berubah jadi sinyal elektrik itu. Ia hanya melihat namun tidak bisa merasakan, betapa kehangatan tubuh bertingkat-tingkat berusaha aku transfer ke tubuhnya.”
“ia meninggal, saat lambungnya sudah tidak bisa mencerna makanan. Begitulah lambungnya dirusak dengan alkohol dan makanan super pedas”. “Sudahlah tabahkan dirimu” aku coba menenangkan. “Dit, aku rindu ayahku” air matanya tak bisa dibendung dan kembali ia merunduk sesenggukan. Aku tak kuasa menghentikannya, sebulir air matapun pecah di sudut mataku.