10/04/2007

Rwanda: Tusti dan Hutu

Hotel Rwanda. Tempat, dimana pelabuhan cerita mengenaskan. Keganasan pemberontak yang mengoyak penduduk golongan Tusti. Sepenggal cerita, Tusti adalah kelompok yang menjadi seteru Hutu yang dibedakan menurut kondisi fisik. Hidung mancung dan elegan, itulah cikal bakal bermuaranya pembantaian yang menewaskan ribuan orang itu. Orang-orang berserakan di jalan tak bernyawa bak kerikil mengganti hamparan jalan.

Pemeran Paul dalam film ini mampu mengajak penonton pada kondisi yang nyata. Kondisi dimana seseorang akrab ditemani letusan senapan dan darah. Pembakaran rumahpun sudah menjadi pemandangan biasa. Pembakaran yang diseling penganiayaan membabi buta. Siapapun orangnya, sekalipun dia tidak melakukan ulah, akan tetapi dia terbukti golongan tusti, maka penyiksaan tak bisa dihindari.

Dari kondisi itu, Paul tidak ambil diam. Terlebih istrinya adalah target pembunuhan mereka. Sekalipun Paul golongan Hutu, tidak dijadikannya sebagai seorang yang acuh dengan keadaan tersebut. Terbukti, uang kocek selama dirinya bekerja, habis untuk menebus tawanan para pemberontak itu. Hingga di saat yang genting, ketika uang sudah tidak dapat diandalkan meredam kekacauan yang terjadi, maka disaat itu pula, Paul berupaya menempuh jalur diplomasi. Harapan cara tersebut bisa membantu, ternyata jalur inipun tidak ia dapatkan dengan mudah. Ia harus meronta-ronta. Berkali-kali ia tidak digubris. Akhirnya dia hanya berharap ada sesuatu yang mendorong kepedulian mereka (Amerika, Jerman, dan Francis) untuk membantu.

Paul beradu cerita dengan Titiana, istrinya, di atas hotel bintang empat dimana ia bekerja. Senyum dan kesedihan silih berganti dengan cepat dalam percakapan itu. Senyuman yang bukan menjadi pertanda keromantisan. arah depan dimana mereka duduk, dentuman dan beredelan senjata, kelap kelip mengalahkan keindahan malam. Senyuman itu sebagai isyarat mereka masih bisa bersatu. Mereka sangat mencintai keluarganya.

Kecintaan yang membawa mereka pada kondisi kritis. Mereka dikejar oleh pemberontak. istri dan anak-anak Paul adalah target yang akan dibantai oleh pemberontak itu. Istrinya adalah seorang Tusti yang pemberontak anggap, mereka adalah pengkhianat dan harus dimusnahkan. Paul yang punya golongan berbeda dengan istrinya itu kontan tidak ambil diam. Segala cara dilakukan demi menyelamatkan keluarganya. Uang pun habis untuk membayar tawanan mereka. Meminta bantuan ke PBB pun ditempuhnya. Sampai pada waktu yang klimaks usaha itu tidak membuahkan hasil.

Pada suatu waktu pemberontak akan mengevakuasi golongan tusti yang memiliki perbedaan fisik dengan Hutu. Upaya mereka akhirnya bisa digagalkan oleh Paul yang memiliki relasi di diplomat. Dengan itu mereka dapat dibubarkan. Di situasi genting seperti itu, Paul memerintahkan para pengungsi, termasuk stafnya di Hotel untuk menghubungi teman atau saudaranya di luar negeri. Terutama Inggris, Francis, dan Amerika. Paul suruh mereka katakan “terima kasih atas segala kemurahan selama ini, seolah kamu sedang berjabat tangan, dan ketika melepaskannya maka kamu akan mati.” Itu tidak lain agar mereka bisa merasakan apa yang sedang terjadi.

Usahanya itu berbuah hasil. Tentara berdatangan dari tiga Negara besar tersebut. Selang tidak lama kemudian, mereka kembali mengevakuasi orang kulit putih yang menyisakan penduduk kulit hitam. Seorang perempuan kulit putih meronta-ronta saat dipisahkan tentara dengan seorang anak berkulit hitam. Evakuasi itu menyisakan duka mendalam. Derai tangis mengiringi kepergian mereka.

Kondisi semakin tidak menentu. Hotel yang jadi tempat pengungsian terus didatangi pemberontak untuk mengevakuasi golongan Tutsi. Untuk ke sekian kali Paul bisa menyelamatkan mereka dengan sisa kekayaannya. Seringnya mereka datang untuk meminta upeti, akhirnya kekayaan Paul benar-benar habis. dua hari mendatang pemberontak itu akan kembali datang. Paul berfikir keras agar semua yang ada dalam hotel tersebut bisa selamat, termasuk istri dan anaknya.

Upaya Paul mengurangi korban serangan Pemberontak yang membabi buta akhirnya bisa dilakukan. Keluarga Paul termasuk yang mendapat perlindungan dari PBB untuk dibawa ke tempat pengungsian. Pemberontak yang tau, jika PBB sedang memboyong orang-orang yang menjadi target pembantaiannya, mereka tidak melepas begitu saja. Mereka menghadang dan menyerang orang-orang dalam mobil itu, termasuk istri dan anak Paul yang ikut rombongan tersebut. Film ini begitu dekat dan menegangkan.

Mimpiku Hari ini

Mimpiku Hari ini Dari mereka, tetanggaku yang tua renta bercerita, dulu beberapa saat sebelum aku terlahir, aku sempat diboyong oleh kendaraan roda dua. “mengapa begitu repotnya” pikirku ringan. “ iya, karena ibumu tidak bisa membayar kendaraan yang sebenarnya ingin dikenakannya”. aku langsung lari seolah ada perasaan lain yang membuatku ingin bertemu dengan ibuku. Ketika tiba, aku dapati orang tuaku terbaring letih begitu pulasnya. Akupun langsung terbaring menyelinap di sebelahnya. *** Aku menapaki anak tangga. Tak kulihat akhir ekor tangga bersandarkan istana. Terus aku melangkah, tak terasa tubuhku sudah dibanjiri keringat. Keringat yang deras meleleh dari kening. Sesekali aku tak lihat kesempurnaan tubuhku. Pandanganku terhijab awan yang melingkari badan, hingga aku tak bisa menembus melihat kakiku. Sejenak aku beristirahat. Pemandangan di sekitar yang lengang, semai, dan mencekam. Aku terdiam ngeri. Tak bertujuan dan tak bermaksud. Aku hanya melangkahi anak tangga yang tidak pernah tahu dimana akhir dari perjalanan ini. Diatas ketidak jelasan dalam tujuan, ketidaktahuan akhir dalam melangkah, setitik pandanganku diisi oleh sesuatu yang bergerak. Gerakan yang sama menapaki kaki tangga yang berbelok. Aku berusaha mendekati orang tersebut. Aku melihat sesuatu didepanku ternyata dua sosok manusia yang sedang berpegangan tak perhatikan keadaan di belakangnya. Aku berteriak sekerasnya. “Woi siapa kamu?” Dua orang itu seolah tak mendengar, kepalanya tak sedikitpun goyah merespon panggilanku. Malah sesekali mereka saling berpandangan dengan muka sumringah. Kembali aku panggil sekerasnya. “lihatlah ke belakang, disini ada orang yang memperhatikanmu” Sekeras apapun aku berteriak, kedua orang itu tak pernah melirik enam puluh derajat. Mereka hanya satu sama lain saling bertatapan horizontal dan memberikan senyum kecil. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa mereka. Aku tapaki anak tangga dengan langkah besar, meloncat dan cepat. Terkadang satu anak tangga harus aku abaikan haknya untuk diinjak. Aku sedikit merasakan lelah. Namun kelelahanku dikalahkan oleh rasa kepenasaran dua sosok yang ada didepanku. Aku harus mendekatinya. Aku ingin berkenalan dengannya. Kembali kepenasaran itu mengompori semangatku untuk terus mendekat. “Maju terus” seolah batinku berbisik menyemangati Sedikit lagi aku bisa menyapanya. Tapi aku mengenali baju yang dikenakan dan perawakan yang sudah tidak asing pada pandanganku. “sedikit lagi” aku semakin dapat menepuk bahunya. Tiga meter lagi. Ketika aku giat-giatnya menerjang awan yang mengaburkan pandanganku, kedua orang itu terhenti. Mereka seolah tahu kedatanganku. Mereka masih memegang erat tangannya mesra. Tidak lama kemudian, mukanya secara bersamaan melihat ke belakang. Betapa kagetnya aku ketika yang aku lihat dari kejauhan itu adalah mereka orang tuaku. Aku bisa pastikan. Pakaian yang dikenakan, fisik yang khas, dan wajah yang sudah tidak asing lagi. Perasaanku bahagia bercampur haru. Mataku berkaca-kaca ketika melihat mereka yang sudah aku pastikan jika mereka adalah orang tuaku. Aku tersenyum kepada mereka. “ayah … ibu…” bibirku bergetar memanggil mereka Ayah dan Ibu hanya memandang datar. Kembali aku tersenyum, memastikan jika aku benar-benar bahagia bertemu dengannya. Mereka hanya melihatku datar tak berkesan. Wajahnyapun kembali berputar polos. “Ayah…Ibu…” kembali aku memanggil dengan nada yang sedikit mengeras Mereka seolah tuli. Mereka tidak mendengar panggilanku. Aku dekati mereka dan menepuknya. Dia hanya memandangku datar dan melanjutkan perjalanannya. “Ayah…Ibu… ini aku awan” aku berteriak keras Mereka tak menggubris panggilanku. Aku coba menahan jalannya yang tegap lurus. Tapi aku tak kuasa menahan tenaga yang stabil mendorongku. Tak sampai disitu, aku genggam erat-erat kakinya yang mengayuh pasti. Tapi kembali aku tak kuasa menghentikannya. Tenaga mereka seolah tak bisa aku taklukan oleh keseluruhan kekuatanku. Bahkan aku tergusur tertusuk sudut tangga yang runcing. “Ibu…ayah…ini aku” sambil aku menahan rasa nyeri. Saking aku tak bisa menahan tusukan anak tangga yang semakin menjadi, aku lepas tangan kananku yang mengepal kaki mereka untuk menahan anak tangga yang semakin mengganas. Rupanya anak tangga itu benar-benar seperti algojonya mereka. Aku dibuatnya tidak berdaya dilerai dengan tusukan-tusukannya. Akhirnya aku melepas kedua tanganku. Tak aku lanjutkan kepalan itu. Aku hanya bisa mendongak ke arahnya, sambil mataku meneteskan air mata yang bercampur dengan keringat. Begitu teganya mereka kapadaku. Aku tak habis pikir, perasaan macam apa yang mereka miliki. Begitu acuh, tidak peduli, bahkan melukai tubuhku yang sejak kecil mereka manjakan. Aku berteriak keras. “ibu…ayah…ini aku” tak hentinya mataku berderai air mata. Deras, sederas keringatku mengejar mereka. Tangisanku ini tak pernah mereka perhatikan. Tidak pula dia menyumbang iba hanya sekedar menengoku ke belakang. Mereka semakin menjauh. Pandanganpun semakin rabun menangkap orang tuaku. Hati ini tak menentu, rasa bercampur, membaur, menerkam, bermasam, dan menghardik. “ibu, apa salahku hingga engkau melakukan hal itu, bukankah engkau dicipta melalui tangan sang khalik yang dirajut sifat rohman?”. Aku tak kuasa menahan air mata yang semakin mengalir deras tak percaya. Tubuhkupun menjuntai seolah berat kakiku memangku. Tidak lama setelah itu, ada sesosok yang ramah membantuku bangkit. Dia menyeka air mataku yang tak pernah berhenti mengalir. Kemudian dia memulai pembicaraan “aku tahu hatimu sesak, kesesakan yang mengeluarkan bulir-bulir cintamu kepada mereka”. “aku tidak mengerti, mengapa mereka seperti itu” balasku sambil tersedu. “aku tidak faham”. “aku hanya menceritakan apa yang mereka rasakan yang sempat mereka ceritakan”. “jadi sebelumnya kau pernah bercerita dengannya?” aku penasaran. “ya”. “lalu mengapa dia tidak mau berbicara dengan anaknya sendiri?” pintaku tegas. “mereka pernah rasakan, apa yang kamu rasakan saat ini, betapa sakit hatinya mereka, ketika kamu merasa malu berjalan bersama mereka, ketika kamu bersikeras tidak ingin berjalan bersama mereka karena malu dilihat teman. Saat itu kamu memilih berjalan dengan teman-temanmu agar tidak dianggap anak mami”. “kawan, jangan sampai ini terjadi pada zat yang menciptakan mereka. keridhaanNya ada pada keridhaan mereka, camkan itu!!”. Aku langsung lemas terkulai lunglai. Di sudut mataku, semakin banyak bulir-bulir membasahi pipi. Sesaat kemudian aku terbangun dari tidurku. “Alhamdulilahilladzi ba’da maa amatana wa ilaihi nusur” ucapku lega, kalau yang terjadi tadi hanyalah mimpi. Hari itu begitu hampa. Tidak seperti biasa. Nafas waktu yang berhembus begitu semai. Waktunya aku berpamitan untuk pergi ke luar kota meninggalkan keluarga. Aku bergegas bangkit dari kasur motif kotak-kotak. aku baru ingat jika ini adalah hari yang bahagia sekaligus menyedihkan. Hari ini, hari pertama aku bekerja, namun juga hari ini hari ketika aku harus meninggalkan orang-orang yang aku cintai. Aku berusaha kabur dari perasaan yang membuatku semakin terkulai dikelabuinya. Aku harus tegar. Terlebih aku seorang laki-laki. Setelah semua sudah saya persiapkan, aku temui terlebih dahulu adiku yang sedang melamun. Ia menengok ke arahku dan tidak lama wajahnya berputar, pura-pura mengerjakan sesuatu. “dik” aku panggil dengan nada rendah. Ia kembali melirik. Mukanya sedikit memerah. Ia masih menggenggam bolpoin yang sesekali diputarnya. Bersambung…

10/03/2007

Wallahualam

Mengapa Allah harus melibatkan manusia dalam penciptaan manusia

Wallahualam

Mengapa Allah harus melibatkan malaikat dalam penciptaan manusia? Bukannya Allah Maha Kuasa?, dimana otoritas manusia seperti dikatakanNya, bahwa manusia tidak akan merubah suatu kaum sebelum manusia merubahnya sendiri, sementara itu manusia selalu mengatakan, apa yang dilakukannya adalah kehendak-Nya. Manusia dengan kapasitasnya yang dangkal terus membredel dengan pertanyaan-pertanyaan yang dangkal namun sakral.

Perumpamaanpun ikut mencoba melepas dahaga keingintahuan manusia yang menggebu. Seperti pada, seorang pembuat patung, sedikitpun tidak akan pernah menyerupai apa yang dibuatnya itu. Begitupun kecanggihan robot-robot kreasi manusia, sedikitpun tidak akan pernah sampai manyetarakan buatannya seperti pembuatnya. Artinya, kapasitas manusia tidak akan menjangkau luasnya ilmu Allah. ciptaanNya tidak mungkin akan menyamai ilmu diriNya. Dengan kata lain manusia memang diciptakan dengan segala kekurangan jauh dari sang pencipta.

Manusia tidak diberi celah mengetahui masa depannya. Misteri inilah yang menjadikan manusia “semakin hidup”. Harapan, cita-cita, dan ketakutan akan terus beriring mengawal kehidupan. Harapan, cita-cita, dan ketakutan yang dilingkup waktu. Waktu yang senantiasa memberi ruang dan mengakomodir rasa itu.

Dia memang sutradara terbaik. Begitulah tauhid ini menjawab singkat. Untuk mematahkan ketidakeksisan Dia begitu sangat sulit. Kepenasaran, kekurangan ilmu, dan banyaknya misteri Illahi yang tidak terjangkau nalar berbanding lurus dengan kemegahan penciptaan yang tertata dengan sedemikian indah dan sarat pengetahuan logis, membuat bodoh dan kerdil bagi siapapun yang masih mengatakan semua itu adalah proses alami. Tak bertuan.

Mengapa Dia menciptakan manusia melalui cerita Adam dengan segala pernak pernik kisahnya? Mengapa manusia ada dilaluinya dengan proses reproduksi, tidak seperti nabi Adam, Siti Hawa, ataupun nabi Isa? Mengapa tak dijadikan semua ciptaanNya menyembah kepadaNya, sehingga tidak perlu menciptakan setan durjana yang hanya mengganggu manusia? Bukannya sedikitpun manusia tidak menguntungkan bagi diriNya? Semua itu membawa kita kepada ketidaktahuan apa tujuan Allah menciptakan semua ini? Singkatnya, rahasia Allah adalah keadilan bagi manusia. Tujuan penciptaan manusia hanya Allah yang tahu.

Wallahu a’lam

Puasa bukan di siang hari doang

Menahan makan dan minum belum tentu puasa

Dalam obrolan salah satu radio anak muda di Bandung, “menahan makan dan minum, bukan berarti lo puasa” sering dilontarkan menjadi tagline memulai bacotnya. Saya juga sudah akrab dengan kata-kata itu tidak hanya dari radio tersebut, tapi dari ustadz atau kultum shubuh. Saking akrabnya, jadi dikenal basi. Basa basi busuk. Kira-kira itu yang saya rasakan. Makin lama mengenal, semakin terlihat tanda-tanda memudar sejatinya perkenalan itu.

Malam hari, ketika seluruh anggota keluarga sudah tertidur membabi buta, saya buka kepingan DVD, film yang sedang masuk dalam box office. Sebelumnya, di siang hari saya sempatkan menyaksikan film itu menunggu komputer yang rada ngadat. Terpaksa pilihan mengobati kekesalan itu dengan menyaksikan film. Kebetulan film itu sudah lama tergeletak pasrah belum juga ditonton.

Belum sampai film itu menceritakan kepiawaian sutradara meramu kejadian demi kejadian, saya sudah disajikan trailer yang membuat saya mematikan kembali DVD-nya. Shaum dalam hati. Benar juga, baru kerasa, kalau di bulan Ramadhan setan-setan dibelenggu. Sekalipun demikian, tetap saja fikiran sudah menjadwalkan secara cepat kapan saya harus menyaksikan film itu. Sepertinya sudah otomatis saja otak ini bekerja, dan sudah dengan cepatnya system otak menyeret waktu Ramadhan yang saya yakini sebulan penuh jadi setengahnya. Baginya, malam sudah bisa melakukan aktifitas seperti bulan-bulan lainnya. Yang sabar karena ledekan di siang hari, di malam hari sudah dapat balas dendam dengan kata-kata yang bebas. Saatnya kemenangan, kemenangan untuk meledek secara biadab. Begitu pula nonton. Nonton dengan tontonan yang tidak di filter. Bebas.

Malam hari, akhirnya saya saksikan juga film itu. Walau gambar agak redup dan ngeblur, karena layar mata yang sudah berkurang resolusinya. Namun akhirnya saya bisa mengkhatamnya. Film yang menegangkan. Luar dalam. Pukul 12.30 disaat orang tidur untuk menyambut waktu sahur yang barokah, atau, berdzikir, atau tadarus qur’an, saya baru selesai menyaksikan film itu. Mampus lah

Tidak seperti biasanya, saya yang termasuk paling ketat menentukan syarat atau aturan menonton, malam itu begitu sangat tumpul. Analisis film yang selalu dijadikan alasan agar film itu layak ditonton, malam itu begitu tidak membekas. Memang sulit kalau film-film thriller. Misinya saja sudah ingin menakut-nakuti, makanya sutradara lebih menekankan pada adegan yang menegangkan saja dibanding dialog atau alur yang bagus, sehingga daya analisis ini melemah. Tapi itu juga tidak semua film berjenis Thriller seperti itu. Bagaimanapun juga semua itu tergantung kita. Buktinya film Final Destination yang bobot alurnya kurang, tapi saya bisa begitu cepat mengambil hikmah. Hikmahnya, film itu sedang menakut-nakuti atau kampanye sadar mati bagi mereka yang bengal. Singkatnya

Minimal ada tiga kemampuan film begitu banyak digemari. Hiburan, jadi bahan analisa akademis, atau sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Mudah-mudahan film yang hendak ditonton nanti, memiliki bobot hikmah yang kuat. Walau tidak sebanding dengan membaca Qur’an, minimal mendatangkan seonggok pahala gunung Hud. Kejadian demi kejadian dalam film mudah-mudahan terasa begitu membanjiri spiritual kita. Kembali ingat, Ramadhan bukan hanya siang hari!