10/04/2007
Mimpiku Hari ini
Mimpiku Hari ini
Dari mereka, tetanggaku yang tua renta bercerita, dulu beberapa saat sebelum aku terlahir, aku sempat diboyong oleh kendaraan roda dua. “mengapa begitu repotnya” pikirku ringan. “ iya, karena ibumu tidak bisa membayar kendaraan yang sebenarnya ingin dikenakannya”. aku langsung lari seolah ada perasaan lain yang membuatku ingin bertemu dengan ibuku. Ketika tiba, aku dapati orang tuaku terbaring letih begitu pulasnya. Akupun langsung terbaring menyelinap di sebelahnya.
***
Aku menapaki anak tangga. Tak kulihat akhir ekor tangga bersandarkan istana. Terus aku melangkah, tak terasa tubuhku sudah dibanjiri keringat. Keringat yang deras meleleh dari kening. Sesekali aku tak lihat kesempurnaan tubuhku. Pandanganku terhijab awan yang melingkari badan, hingga aku tak bisa menembus melihat kakiku. Sejenak aku beristirahat. Pemandangan di sekitar yang lengang, semai, dan mencekam.
Aku terdiam ngeri. Tak bertujuan dan tak bermaksud. Aku hanya melangkahi anak tangga yang tidak pernah tahu dimana akhir dari perjalanan ini. Diatas ketidak jelasan dalam tujuan, ketidaktahuan akhir dalam melangkah, setitik pandanganku diisi oleh sesuatu yang bergerak. Gerakan yang sama menapaki kaki tangga yang berbelok. Aku berusaha mendekati orang tersebut. Aku melihat sesuatu didepanku ternyata dua sosok manusia yang sedang berpegangan tak perhatikan keadaan di belakangnya. Aku berteriak sekerasnya.
“Woi siapa kamu?”
Dua orang itu seolah tak mendengar, kepalanya tak sedikitpun goyah merespon panggilanku. Malah sesekali mereka saling berpandangan dengan muka sumringah. Kembali aku panggil sekerasnya.
“lihatlah ke belakang, disini ada orang yang memperhatikanmu”
Sekeras apapun aku berteriak, kedua orang itu tak pernah melirik enam puluh derajat. Mereka hanya satu sama lain saling bertatapan horizontal dan memberikan senyum kecil. Aku jadi penasaran untuk mengetahui siapa mereka. Aku tapaki anak tangga dengan langkah besar, meloncat dan cepat. Terkadang satu anak tangga harus aku abaikan haknya untuk diinjak.
Aku sedikit merasakan lelah. Namun kelelahanku dikalahkan oleh rasa kepenasaran dua sosok yang ada didepanku. Aku harus mendekatinya. Aku ingin berkenalan dengannya. Kembali kepenasaran itu mengompori semangatku untuk terus mendekat.
“Maju terus” seolah batinku berbisik menyemangati
Sedikit lagi aku bisa menyapanya. Tapi aku mengenali baju yang dikenakan dan perawakan yang sudah tidak asing pada pandanganku.
“sedikit lagi”
aku semakin dapat menepuk bahunya. Tiga meter lagi. Ketika aku giat-giatnya menerjang awan yang mengaburkan pandanganku, kedua orang itu terhenti. Mereka seolah tahu kedatanganku. Mereka masih memegang erat tangannya mesra. Tidak lama kemudian, mukanya secara bersamaan melihat ke belakang. Betapa kagetnya aku ketika yang aku lihat dari kejauhan itu adalah mereka orang tuaku. Aku bisa pastikan. Pakaian yang dikenakan, fisik yang khas, dan wajah yang sudah tidak asing lagi. Perasaanku bahagia bercampur haru. Mataku berkaca-kaca ketika melihat mereka yang sudah aku pastikan jika mereka adalah orang tuaku. Aku tersenyum kepada mereka.
“ayah … ibu…” bibirku bergetar memanggil mereka
Ayah dan Ibu hanya memandang datar. Kembali aku tersenyum, memastikan jika aku benar-benar bahagia bertemu dengannya. Mereka hanya melihatku datar tak berkesan. Wajahnyapun kembali berputar polos.
“Ayah…Ibu…” kembali aku memanggil dengan nada yang sedikit mengeras
Mereka seolah tuli. Mereka tidak mendengar panggilanku. Aku dekati mereka dan menepuknya. Dia hanya memandangku datar dan melanjutkan perjalanannya.
“Ayah…Ibu… ini aku awan” aku berteriak keras
Mereka tak menggubris panggilanku. Aku coba menahan jalannya yang tegap lurus. Tapi aku tak kuasa menahan tenaga yang stabil mendorongku. Tak sampai disitu, aku genggam erat-erat kakinya yang mengayuh pasti. Tapi kembali aku tak kuasa menghentikannya. Tenaga mereka seolah tak bisa aku taklukan oleh keseluruhan kekuatanku. Bahkan aku tergusur tertusuk sudut tangga yang runcing.
“Ibu…ayah…ini aku” sambil aku menahan rasa nyeri.
Saking aku tak bisa menahan tusukan anak tangga yang semakin menjadi, aku lepas tangan kananku yang mengepal kaki mereka untuk menahan anak tangga yang semakin mengganas. Rupanya anak tangga itu benar-benar seperti algojonya mereka. Aku dibuatnya tidak berdaya dilerai dengan tusukan-tusukannya. Akhirnya aku melepas kedua tanganku. Tak aku lanjutkan kepalan itu. Aku hanya bisa mendongak ke arahnya, sambil mataku meneteskan air mata yang bercampur dengan keringat.
Begitu teganya mereka kapadaku. Aku tak habis pikir, perasaan macam apa yang mereka miliki. Begitu acuh, tidak peduli, bahkan melukai tubuhku yang sejak kecil mereka manjakan. Aku berteriak keras. “ibu…ayah…ini aku” tak hentinya mataku berderai air mata. Deras, sederas keringatku mengejar mereka. Tangisanku ini tak pernah mereka perhatikan. Tidak pula dia menyumbang iba hanya sekedar menengoku ke belakang. Mereka semakin menjauh. Pandanganpun semakin rabun menangkap orang tuaku.
Hati ini tak menentu, rasa bercampur, membaur, menerkam, bermasam, dan menghardik. “ibu, apa salahku hingga engkau melakukan hal itu, bukankah engkau dicipta melalui tangan sang khalik yang dirajut sifat rohman?”. Aku tak kuasa menahan air mata yang semakin mengalir deras tak percaya. Tubuhkupun menjuntai seolah berat kakiku memangku.
Tidak lama setelah itu, ada sesosok yang ramah membantuku bangkit. Dia menyeka air mataku yang tak pernah berhenti mengalir. Kemudian dia memulai pembicaraan “aku tahu hatimu sesak, kesesakan yang mengeluarkan bulir-bulir cintamu kepada mereka”. “aku tidak mengerti, mengapa mereka seperti itu” balasku sambil tersedu. “aku tidak faham”. “aku hanya menceritakan apa yang mereka rasakan yang sempat mereka ceritakan”. “jadi sebelumnya kau pernah bercerita dengannya?” aku penasaran. “ya”. “lalu mengapa dia tidak mau berbicara dengan anaknya sendiri?” pintaku tegas. “mereka pernah rasakan, apa yang kamu rasakan saat ini, betapa sakit hatinya mereka, ketika kamu merasa malu berjalan bersama mereka, ketika kamu bersikeras tidak ingin berjalan bersama mereka karena malu dilihat teman. Saat itu kamu memilih berjalan dengan teman-temanmu agar tidak dianggap anak mami”.
“kawan, jangan sampai ini terjadi pada zat yang menciptakan mereka. keridhaanNya ada pada keridhaan mereka, camkan itu!!”. Aku langsung lemas terkulai lunglai. Di sudut mataku, semakin banyak bulir-bulir membasahi pipi. Sesaat kemudian aku terbangun dari tidurku. “Alhamdulilahilladzi ba’da maa amatana wa ilaihi nusur” ucapku lega, kalau yang terjadi tadi hanyalah mimpi.
Hari itu begitu hampa. Tidak seperti biasa. Nafas waktu yang berhembus begitu semai. Waktunya aku berpamitan untuk pergi ke luar kota meninggalkan keluarga. Aku bergegas bangkit dari kasur motif kotak-kotak. aku baru ingat jika ini adalah hari yang bahagia sekaligus menyedihkan. Hari ini, hari pertama aku bekerja, namun juga hari ini hari ketika aku harus meninggalkan orang-orang yang aku cintai. Aku berusaha kabur dari perasaan yang membuatku semakin terkulai dikelabuinya. Aku harus tegar. Terlebih aku seorang laki-laki.
Setelah semua sudah saya persiapkan, aku temui terlebih dahulu adiku yang sedang melamun. Ia menengok ke arahku dan tidak lama wajahnya berputar, pura-pura mengerjakan sesuatu. “dik” aku panggil dengan nada rendah. Ia kembali melirik. Mukanya sedikit memerah. Ia masih menggenggam bolpoin yang sesekali diputarnya.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar