5/23/2008

Batu Mahal

Tone HP berdering rutin menyahut ditengah bunyi ketikan tak bernada. Keyboard yang aku tekan, seolah silih berganti berteriak pilu mencampur kebisingan kantor. Jari seperti diperintahkan majikannya untuk bekerja keras, mematuk biji keyboard dengan kecepatan ganda. Diseela kegigihan jari memijit tak beraturan, tone HP kembali berdering. Tone yang mirip lolongan bayi. Menarik perhatian banyak orang.

Hari itu aku diberi kepercayaan oleh Pemimpin Redaksi untuk memungut redaksi dari reporter. Pesan membredel lewat layanaan pesan pendek Hand Phone. Satu sampai beberapa pesan aku ketik dengan kecepatan tanganku. Tidak menemui kesulitan berarti. Ditengah jari secara absurd mematuk keyboard.

memindahkan pesan pendek dan sedikit merubahnya dalam bahasa jurnalistik adalah pekerjaan mudah. Tidak harus strata bertingkat-tingkat menghuni posisi ini. Sungguh gaji 6,5 juta rasanya tidak sebanding diperoleh Pemimpin Redaksi (Pemred) itu. Namun nasib berkata lain. Pemred berwajah sangar itu sudah tercatat di Lauhil Mahfudz sebagai makhluk kaya.

Jauh dari nominal yang kusebutkan tadi. Tak disadari fikiranku semakin liar berlari-lari dalam kepalaku. Berusaha aku redam gerutu yang semakin meracau. Aku semakin bekerja dibawah pikiran-pikiran dongkol. Aku berusaha membuang hal tersebut dengan kembali mengetik.

Lambat laun pekerjaanku bisa selesai. Di akhir pekerjaanku, ada satu SMS yang menggunakan bahasa singkatan. Wajar pikirku, pasalnya layar HP tidak bisa menampung banyak karakter. Tidak aku ambil pusing. redaksi itu. Beberapa tahun mengenal telepon genggam, mengenal pula karakter tulisan. Termasuk singkatan dalam SMS. Maksud yang jarang meleset untuk mengartikannya secara utuh.

Dengan penuh percaya diri, aku masukan pesan tersebut. Dalam layar tampak jelas, aku mengetik BATU BARU. Huruf yang tertera kapital, begitu menantang memadati mata. Kata itu pula akhir dari pekerjaanku membantu Pemred. Tidak lama berselang, Pemred itu datang. Ia menghampiriku. Aku loncat dari tempat duduk yang akan ditempatinya. Wajah ramah kutunjukkan padanya. Wajah yang sekaligus menantang pekerjaan lain untuk kuselesaikan.

“selesai ga?”. “udah” aku menyahut dengan cepat. Bapak itu hanya membiarkan aku. Tidak diberedel oleh perintah-perintahnya. Sepertinya ia sedang memberikan kesempatan supaya khayalan-khayalan kembali bertamu. Kenyataannya benar, khayalan itu semakin rajin bertandang ke alam pikiranku. Ia bisa berwujud bos, berwujud setan yang mengompori aku agar mencela Pemred itu, atau hanya sekedar mendendangkan alunan kecil, kemana aku makan siang ini. Itulah akibat aktifitasku yang mematung.

***

Tiba waktunya take Daily Report. Seperti aku lakukan di hari-hari sebelumnya, aku berikan naskah pada Operator VTR dan Host. Kemudian aku mangkal di muka layar komputer untuk mengendalikan teleprompter. Operator mempersiapkan backdrop dan kamera kontrol. Seluruh tim siap melakukan take. “Backdrop roll…camera roll…”. Lantas dengan jari lentiknya, Program Director memberi aba-aba. Produksipun dimulai.

Teleprompter aku atur temponya agar nyaman dibaca host. Terkadang akupun harus membaca keseluruhan kalimatnya. Namun dalam tumpukan kalimat yang tenggelam, aku menemukan dua kata, seolah aku digelitik oleh anekdot lucu. Bukan karena kami sedang memproduksi tayangan humor. Lebih dari itu, aku mendapat tamparan namun menggelikan. Tamparan karena kebodohan yang dibalut percaya diri berlebih dan menggelikan untuk dua buah kata nan sederhana.

Kata itu BATU BARU yang aku tulis sebelumnya. Aku simak baik-baik dan aku dengar secara jelas host membacakan BATU BARA dan tertera pula dalam naskah. Kejelian untuk satuan kalimat yang santer dibicarakan orang. BT BR pada pesan pendek begitu mendikotomi kelas antara yang berwawasan dan yang tidak. Empat simbol yang menghuni dua tingakatan khasanah yang bertolak belakang. BATU BARU, sungguh penjabaran. wawasan tak bereferensi. Sedang BATU BARA untuk alasan logis kondisi yang banyak dibicarakan masyarakat.

Kejelian Pemred melihat itu, membuat aku urung berfikir negatif kepada bapak berkepala pelontos itu. Pelajaran, bahwa tidak cukup melihat pekerjaan dari bobot kerjanya saja. Perlu ada kejelian dan wawasan berperundag-undag memahami kondisi yang ada. Sehingga asupan yang didapat, tidak sebatas tumpukan simbol semata, akan tetapi simbol yang berkata-kata pada kondisi nyata.

Selesainya kami produksi, aku semakin hanyut dalam kubangan kebodohan yang memalukan. Hikmah yang menampar dengan empat simbol itu. Jika aku mengingatnya kembali pesan reporter via SMS, aku akan tertawa geli tapi jiji. Jiji untuk BT BR yang dimaksud ternyata bukan Batu Baru tapi Batu Bara. Batu Bara yang mencambukku untuk lebih banyak membaca. Bodoh…

Senyum Seorang Pahlawan

Event di sekolah membuat aktifitasku semakin menggunung. Hampir tidak ada waktu yang dialokasikan untuk kebutuhan pribadi. Kumis mulai kelimis tumbuh tidak terurus. Rambut semakin gomplok dihuni oleh helaian yang rapuh. Tak tersadar rambut itu pekat. untuk keramas saja, tidak diperhatikan betul. Event itu seperti butuh perhatian lebih bak orang tua yang tidak ingin luput mengawasi anaknya.

Bagaiamana tidak, event ini adalah pertaruhan soal gengsi. Dari privasi sampai lembaga, tempat dimana aku dipercaya. Kepercayaan yang tidak akan pernah aku sia-siakan. Aku akan buktikan dengan segenap kemampuan, bahwa aku bisa. Aku tersadar tengah melakoni jiwa-jiwa pembesar. Sungguh tidak mudah untuk melewatinya. Namun jika aku dapat melaluinya dengan baik, maka tak ada kata yang pantas untuk menukar kepuasan itu. Pikirku menyemangati.

Benar saja, di titik nadir saripati hidup yang dirasakan olehku ternyata cukup merepotkan mental. Hampir seluruh waktuku tertumpah pada wadah yang sama. Porsi tidur sebagian diambil alih oleh mimpi-mimpi kesuksesan event yang masih maya. Sungguh titik yang merontokkan tubuh secara perlahan. Hal yang secara otomatis menciutkan tubuh. Kendati ada banyak hal membuatku tersenyum, namun itu tak berlangsung lama. Kening kembali berkerut. Tidak lama kemudian kembali pada kebiasaanku menjengut rambut.

***

Tiba saatnya event itu dilaksanakan. Acara-demi acara memberi kesan mendalam. Para pengisi acara telah menampilkan performa terbaiknya. Kekhawatiran sedikit demi sedikit terkikis. Hingga berakhirnya acara aku mendapatkan suntikan kebahagiaan yang bertindih-tindih. Entah dari mana kesejukan, kedamaian itu datang. Ia begitu saja menghampiri seperti memeluku. Aroma hidup yang menggairahkan.

Selesainya acara, teman-teman saling komentar prihal acara itu. Tidak banyak membekas pada telinga tentang kekurangan-kekurangan dalam event tersebut. Terang saja itu membuatku melayang. seolah diangkat oleh hembusan angin mengangkatku penuh cinta. Komentar baik seolah hadiah spesial bagiku. Akhir yang banyak diburu kebanyakan orang pikirku.

Lama menikmati euforia kebahagiaan, seiring waktu hal itu tersimpan dalam sejarah hidupku. Ia hanya pemantik, kala aku ingin menjalankan aktifitas serupa pada kegiatan lain. Ternyata kebahagiaan itu perangsang untuk merangkai tindakan-tindakan monumental lainnya. Jiwa akan terus memanggil kala prestasi satu demi satu kupegang. Prestasi yang menjadi pijakan langkah untuk kuayun lebih banyak.

Mungkin itulah yang dirasakan kala keberhasilan begitu menggoda untuk terus mengejar keberahsilan lainnya. Akupun sering menggelitik pikiranku untuk nyinyir, apakah ini yang dirasakan para pahlawan? Tindakan yang tak pernah terhenti untuk menikmati rasa puasnya. Jika saja gelar itu bisa didapat di akhir perkuliahan, maka aku salah satu yang ingin jadi mahasiswanya. Namun sayang, gelar itu terlalu agung hanya untuk title pada akhir pendidikan formal. Gelar yang tidak bisa dihuni oleh rata-rata orang. Penegasan gelar yang tidak sembarang.

Kepuasan yang tidak diukur dari kesenangan rata-rata orang. Kendati semua bermuara pada kebahagiaan orang yang menjalankan. Terkadang secara kasat mata ia menampilkan sosok yang mengkhawatirkan. Lebih dari itu seolah ia tenggelam dalam duka yang berkepanjangan. Tapi mungkin dalam satu titik, ia menjadi orang yang paling bahagia. Mungkin itu yang membedakan ia dengan orang bernasib sial lainnya. Ia akan menantang terus saripati hidup yang hampir mencekik atau bahkan ia harus mati di pangkuan usahanya. Berbeda dari mereka yang dirundung kesedihan karena tak bisa lari dari kenyataan pahit hidupnya. Semakin terjerat, semakin pasrah dan semakin ia menjerit liar. Pahlawan itu bukan sedang mencari mati. Tapi ia sedang mensyukuri dan menikmati potensinya

Kutahu sekarang sedikit hal tentang kehidupan pribadi para pahlawan. Ia akan tersenyum manakala bumi menimpuk dirinya hingga tak kuasa melawannya lagi. Karena ia tahu titik kuasanya telah dilumpuhkan oleh kegagahan bertingkat-tingkat diatasnya. Yang terpenting dari hidupnya adalah usaha terbaik. Tidak jadi soal akhir dari perjalanan itu hidup atau mati. Karena kepuasannya adalah kemenangannya. Pengerahan usaha yang maksimal jauh melampui dua kemungkinan akhir perjalanannya itu. Karena hidup atau mati, dia tetap puas, kendati kemampuannya terkuras habis. Sampai kepada tenaganya disisakan hanya untuk menyunggingkan bibir. Untuk tersenyum.

Pusat Keindahan

Di perjalanan menuju Bali, tepatnya di daerah Probolinggo. Desember jadi bulan yang dianggap wajar bagi kebanyakan masyarakat disana untuk mengatakan selamat datang pada hujan. Dalam perjalanan yang biasanya dieram oleh hawa panas. Ketika itu sebaliknya. Aku merasakan dingin yang melebihi, karena AC mobil yang turut menyumbang hawa itu.

Dalam perjalanan, mobil melaju perlahan menghalau kabut yang menumpuk. Beberapa meter arah utara dan selatan mobil seperti memberi petak menikmati panorama bukit. Disamping mobil begitu syahdu seolah dilindungi makhluk tinggi ramping yang melindungi, menjaga, memagari laju mobil agar tidak salah arah. Makhluk hidup itu dibiar jenjang dengan jambul daun dibiar liar. di sisi daun mengintip cahaya yang malu-malu menampakkan. Yang terlihat seperti outerglow menghias pinggiran daun.

kabut tidak tanggung-tanggung memasok pasukannya, terapung, menindih langit, melumuri. Biru langit tampak berkaca-kaca. Subhanallah. aku seperti terjerembab, terjebak dalam dunia yang sama sekali asing bagiku. Kontras dengan duniaku sebelumnya. Seperti pada film Narnia yang masuk lemari ajaib, bingung, namun menyimpan keindahan bertingkat-tingkat.

Suasana itu tidak berlangsung lama, namun melekat penuh kedamaian, sejuk, langgeng bermasa-masa. Bibirkupun tak tahan mengatakan pada Azam yang menikmati hal yang sama. Matanya tidak lepas menembus kaca mobil yang sesekali dilap karena berembun. “kau tahu dit, saat ini kau sedang menikmati duniamu” matanya tidak melepas pemandangan yang bertolak dari pandanganku. “maksudmu Zam” sahutku dengan maksud membangukan dia dari kata-kata liar. “dunia kesan yang dimiliki olehmu dan olehku juga” Azam melanjutkan. “bicara apa kamu ini” aku melakukan hal yang sama seperti Azam, meracau sambil memperhatikan pemandangan diluar.

“jauh hari sebelum kau melihat keindahan ini, sang pencipta telah membuatnya untukmu” Azam kembali berkata setengah berbisik, masih tetap tatapannya keluar sedikit mengerutkan kening. Kali ini aku menepuk bahunya “woi, kamu sudah terlalu jauh Zam!!!”. “Dit andaikan pohon, langit, beserta hiasan lain yang kita rasakan dan kita lihat hadir membentuk dirinya diluar kita, mungkin mereka akan bersembunyi dengan segala kerendahan atau keangkuhannya, bangga” Azam masih berkata-kata, acuh.

Aku semakin tidak faham mengikuti kata-katanya. “andai bagian dalam ini tidak mengenal warna, tidak mengenal garis atau titik. Atau tidak terampil memadukan warna, mengenal sisi-sisi keindahan, maka sedikitpun ia tak lebih sebagai barang rongsokan tak bernilai guna” azam sambil menunjuk kepala belakang. Aku mulai hanyut dalam pembicaraannya. “fikirkanlah bagaimana ia bekerja memberi sumbangsih dari apa yang kau lihat”.Azam meneruskan. Aku mulai masuk dalam percakapan yang kuanggap igauan itu.”ia begitu teliti mengarsir gradasi warna secara lembut, ia begitu tahu resapan rasa yang kita idamkan” Azam semakin serius. “terlalu sederhana jika kita mengetahuinya dari segi kerja merespon sinyal dari indra kita. Lebih dari itu ada keindahan yang rumit kita jelaskan dengan perkara biologis” Azam menunjuk-nunjuk kembali kepalanya.

“oh…” aku mengangguk setengah mengerti.”ia memberi kesan dari sinyal elektrik indra peraba, penghisapan, dan penglihatan kita. Kesan yang begitu cerdas mengklasifikasikan berbagai keindahan. Matapun tidak lepas dimanjakan oleh keterampilan kinerjanya menyulam warna-warna sehingga menghasilkan kombinasi warna. Indah. Kau tahu … muatan itulah duniamu itu. Dia menanam warna, rasa, bau, dan bentuk, untuk kau tempatkan pada posisi dan siasat yang tepat. Agar kau mendapat porsi kemegahanNya”. Aku semakin digusur oleh kata-katanya. “maksudmu semua yang ada diluar kita tidak ada artinya, jika bagian otak ini tidak merespon sinyal-sinyal elektrik itu, begitu” Edi menyela ditengah percakapan antara aku dan Azam. “dapat dikatakan demikian. Keindahan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang masih bisa merasakan proses foton berubah menjadi sinyal elektris ke sebuah titik mungil di bagian belakang otak. Sensasi yang kita dapatkan baru berarti manakala pusat indra menangkapnya. Tak terhitung dengan warna, rasa, atau bau apa ia menyimpan apik hal itu. Tahukah yang paling indah dari semua bentuk keindahan itu… semuanya telah tercipta untuk kita Dit” Azam baru menoleh ke arahku menatap baik-baik mataku sambil membetulkan kaca matanya.

“Dit keindahan itu bermuara dari isi ini” ia kembali menunjuk kepalanya. Kemudian Azam dengan cepatnya menyambar kepalaku seperti jurus totok “Makanya jangan istirahat terus ininya kalau kamu ingin lihat yang indah-indah”. Kepalaku seperti ditusuk-tusuk. Tapi Azam terus mendaratkan tangannya berkali-kali ke kepalaku. “Zam, sudah cukup!!!”. Azam tidak menghentikan ulah kerdilnya itu. Malah Azam semakin menjadi, merontokkan rambutku. Hal yang paling tidak dimengerti dari ulahnya, dia seperti kerasukan, tertawa lepas, sambil matanya berkaca-kaca. “Zam hentikan” aku membentaknya

Jurusnya seperti berbalik. Totokan itu seperti karma untuk dirinya. Ia langsung mematung. Mobilpun sejenak hening. Suara radio terdengar samara-samar mengalun. Azam membetulkan kaca mata dan mengusap matanya. Ia seperti terhentak oleh kejadian luar biasa. Semua tubuhnya sontak berhenti. Mukanya berubah memerah. Ia seolah sedang menahan sesuatu yang berat.

Akupun mulai menepuk lehernya agak keras supaya canda yang terbilang kekanak-kanakan, keterlaluan itu bisa dimulai lagi. Aku merasa bersalah, jika hentakan tadi membuatnya tak kembali seperti biasanya. Aku kembali menepuknya, dengan maksud agar tersengat kembali jiwa kanak-kanaknya untuk kembali bercanda denganku. Azam hanya menoleh dengan senyum yang terkesan dipaksakan.

“sory Zam” aku minta maaf. Mukanya malah merunduk dan kembali mengusap matanya. “tidak apa” nadanya parau. “kenapa Zam?” aku setengah berbisik. “ditengah perbincangan tadi aku sudah ingin menangis Dit. tidak tahu, mengapa hal itu tiba-tiba saja datang”. “tidak mungkin Zam, pasti kamu menyimpan sesuatu, coba kamu ceritakan saja”. “ketika kita bicara masalah sinyal elektrik tadi, aku jadi teringat pada seseorang yang sangat dekat denganku. Ia begitu baik, teringat masa, saat saya terapung beberapa hasta diatasnya, lalu dipeluknya aku dengan penuh kehangatan.” Azam sedikit tersenyum memancar aura kesejukan. Akupun membalasnya dengan senyum ringan.

“namun sayang, ia meninggal di usia muda. Yang menyesakkanku, di akhir hayatnya itu, dia sama sekali tidak merasakan sentuhanku. Aku remas-remas kakinya, tidak pernah ia bereaksi sesuai harapanku. Ia malah menatap nanar dengan tubuh menjuntai tak berdaya. Melihatnya seperti tengkorak yang dilapisi kulit, tanpa daging. Itulah yang kusebutkan tadi. Semua materi diluar kita tak berarti apa-apa manakala pusat indra tak merespon foton yang berubah jadi sinyal elektrik itu. Ia hanya melihat namun tidak bisa merasakan, betapa kehangatan tubuh bertingkat-tingkat berusaha aku transfer ke tubuhnya.”

“ia meninggal, saat lambungnya sudah tidak bisa mencerna makanan. Begitulah lambungnya dirusak dengan alkohol dan makanan super pedas”. “Sudahlah tabahkan dirimu” aku coba menenangkan. “Dit, aku rindu ayahku” air matanya tak bisa dibendung dan kembali ia merunduk sesenggukan. Aku tak kuasa menghentikannya, sebulir air matapun pecah di sudut mataku.

1/14/2008

Kaya untuk Kaya

Aku baca lembar per lembar buku temanku yang aku pinjam tak sengaja. Mengharu biru, menggebu, penuh penaklukan. Penulis itu membuatku kuyu disemprot guyuran pesan. Penulis yang telah menaklukan kegagahan monument ketidakmungkinan untuk memperoleh sesuatu.. Aku bahkan telah digaet untuk mencoba terlibat dalam perjalanannya. Sarat keabadian.

Ketika membaca, aku seperti mengganda menjadi dirinya. Hatiku diperas, asaku dicambuk berkali-kali untuk berusaha seperti dirinya. Dualisme ‘kaya’ membelah diri yang berarti; seperti, mirip, atau persis. Mentalku mengikatkan pada kamuflase perjalanannya. Layaknya joki limbung yang terjatuh, lalu digusur oleh kuda yang berlari kencang. Berusaha bangkit lalu mengejar!. Aku sadar posisiku jauh dibawah lantai pengalaman dan prestasinya. Aku sadar, aku telah melakoni nyanyian yang sering dinyanyikan Ahmad Albar, sandiwara untuk seperti.

episodeku kali ini mungkin awal cerita dari banyak scene yang ditulis Sutradara. Penuh rintangan, kesedihan, dan berakhir dalam samudra bintang gemintang kesuksesan. Pikirku yang sinetron berat. Bahkan aku sedang mengibas kemungkinan yang muncul mematahkan pikirku tadi. Namun tetap tidak bias disangkal. Film lain seolah membentuk barisan, merubuhkan kemungkinan akhir kesuksesan itu. Memberi pelajaran dengan kejahatan atau mati untuk ketentraman. Film Nomad the Warior semakin menegaskan penaklukan membiaskan bintang gemintang itu. Film itu memuntahkan kembali kemenangan yang kutelan bulat-bulat. Aku khawatir terperosok untuk memerankan tokoh-tokoh yang menjadi pahlawan, kala dirinya ditakdirkan menjadi lawan untuk menopang kedigdayaan sang teman. Tragis.

Aku getir meneropong akhir dari perjalanan yang penuh misteri ini. Penentuan hari H. asaku melompat, menyundul-nyundul untuk jiwa yang terkulai. Malas. Rasanya hanya dewi fortuna yang akan mengangkat derajat itu. Melihat kondisiku, semua orang sepertinya sepakat dengan madzhab kebanyakan. No pain, no gain. Guncangan-guncangan wujud kesuksesan terus membayangiku dari berbagai arah. Lembut tapi mematikan. Killing me softly.

Tapi aku patut bersyukur dengan biusan yang hampir membuatku gila itu. Aku semakin hidup seperti yang seringkali aku lihat dan dengar pada iklan rokok. Aku semakin merasakan saripati hidup. Ujian berkelas yang aku terima. Kendati ujian itu masih jauh dibawah para sahabat ketika perang Uhud yang harus menggadaikan nyawa, harta, dan orang-orang yang dicintanya, namun aku merasakan ujian itu merayap pada posisi peperangan luar biasa itu. Peperangan yang terjadi dalam batin. Pergumulan dan pertempuran yang menyiksa.

Yang membuat aku lebih tersiksa adalah, ketika aku teringat sebuah kisah yang masih hafal betul dimana orang itu bercerita, dalam posisi bagaimana, dan mimik yang seperti apa. Orang itu tidak lain adalah guruku sewaktu SMP. Perawakannya kurus dengan jalan mendayu kaku. Kepalanya sudah dilumuri uban. Matanya terhijab kaca tebal membantu dirinya membaca buku yang digenggam karena tasnya tidak menerima kedatangan buku berukuran gemuk.

Sebut saja namanya Pak Harun. dia bertutur berapi-api. Walau aku tidak dapati dia seperti para mahasiswa yang berorasi di depan mulut kantor pejabat, tapi auranya memancarkan semangat membabi buta. Ia mengisahkan seorang pelajar yang berniat menjaili guru galaknya. Niat menjaili berubah malapetaka. Mesin pemotong tubuh yang tidak begitu jelas aku deskripsikan seperti apa, telah merobek fikirannya. Disinyalir ia meninggal karena guru itu merasa, akhir hayatnya akan berakhir tercincang seperti daun saledri teriris kecil-kecil. Nyatanya tidak demikian, mesin tersebut sedikitpun tidak menyentuh tubuhnya. Kepalang fikirannya melampui keadaan, menyerah, alhasil guru itu tewas mengenaskan. Naas.

Pelajaran pertama, sungguh murid yang tidak memuliakan gurunya. Pelajaran kedua, dahsyatnya imajinasi fikiran. Kisah itu semakin menakut nakutiku. Ditengah perang batin berkecamuk membakar fikiran, kisah sarat nasihat itu seolah meriam yang datang memporakporandakan batinku. Jika aku tidak bisa menaklukan peperangan itu, kalau tidak mati berkeping-keping, minimal musuh yang entah dari kerajaan mana, akan tertawa menang sambil mengibarkan panjinya melihat keadaanku yang lusuh, compang-camping, tertawa tanpa sebab di emper jalan. Menghinakan.

Rupanya aku masih bisa merasakan beban yang bagi sebagian orang tidak begitu difikirkannya. Bahagia dengan posisi dan keadaannya. Seperti kupu-kupu yang hanya menari nari diatas bunga indah berwarna warni untuk dihisap saripatinya. Begitulah ia lakukan sehari-harinya. Tidak berusaha menanam atau dibekal hanya sekedar memberikannya kepada kupu-kupu lain yang sedang kesusahan. Pengaduanku kali ini tidak lebih dari harapan ‘kaya’ yang berarti berjejalnya semua bentuk kesuksesan. Semangati diri.

King Solomon's Mines

Quertemain adalah sosok yang punya andil besar dalam perburuan harta karun. Layaknya dalam kisah-kisah lain, ajang perburuan budak-budak kehendak itu menuai banyak rintangan. Tidak hanya perjalanan yang getir, penuh onak dan keletihan luar biasa, tapi juga mereka harus melewati pertempuran yang sangat dahsyat.

Perjalanan ditengah pemandangan memesona, ternyata hanya layar yang menjembatani penonton untuk dimanjakan. Keutuhan yang memenuhi pandangan mata seolah sedang mengelabui kita untuk mendekat dan kemudian secara perlahan mati mengenaskan. Pemandangan antara padang putih yang dilengkapi biru langit mendamaikan dengan kumpulan awan berrindih-tindih bak dua posisi sedang membatasi daerahnya tak mau diganggu.

Itulah Desert, daerah tentram namun pesakitan. Tenggorokanpun tidak akan betah dibiarkan menghirup perjalanan melelahkan itu. Air yang menggenang sudah dipastikan sesuatu paling berharga dibanding benda lain setara barang-barang mahal. Perjalanan itulah yang sedang dilalui oleh Quertemain yang menewaskan satu temannya, yaitu Henry.

Demi menolong kakek yang ditawan untuk prosesi kuakuani-sebutan acara pembunuhan suku pedalaman afrika dekat Cape Town untuk ritual. Mereka bertujuh melanjutkan perjalanan. Perjalanan penuh resiko karena disamping harus menggadaikan nafsu mereka terhadap harta karun, namun juga mereka harus berurusan, tidak hanya suku-suku pedalaman yang siap menombak tubuh mereka, tapi juga ada rival lain yang menggenapkan diri dalam kelompok pencari harta karun. Tidak jarang, letusan senapan akrab dalam perjalanan mereka.

Yang paling penting dalam cerita ini adalah bersatunya dua lawan jenis di tempat, dimana setiap orang akan terbuai dengan kilau cahaya mengkilap-kilap biru pada batu kecil yang tersimpan indah di mahkota Sheba. Sheba menjadi cerita penting dalam perjalanan mereka, pasalnya Sheba adalah orang yang mendampingi raja Solomon, terkunci dalam ruangan berlimpah ruah harta karun. Keabadian cerita itu dilanjutkan oleh Quertemain yang melamar wanita, seorang gadis, putri, kakek yang akan ditebas suku si “nolomos”.

Sepertinya pernikahan itulah yang sangat penting dalam perburuannya. Quertemain sudah ditinggal lama istrinya, meninggal dunia. Disaat moment penting dihadapan patung Solomon dan Sheba, mereka mencurahkan isi hatinya untuk mengawali hidup menjadi suami istri. Jauh dari perjalanan yang getir tak terperi, rupanya ada harta karun yang lebih berharga daripada kilauan butir menumpuk, menggunung, berkilauan, yaitu keutuhan keluarga yang lama Quertemain dambakan.