Hari itu aku diberi kepercayaan oleh Pemimpin Redaksi untuk memungut redaksi dari reporter. Pesan membredel lewat layanaan pesan pendek Hand Phone. Satu sampai beberapa pesan aku ketik dengan kecepatan tanganku. Tidak menemui kesulitan berarti. Ditengah jari secara absurd mematuk keyboard.
memindahkan pesan pendek dan sedikit merubahnya dalam bahasa jurnalistik adalah pekerjaan mudah. Tidak harus strata bertingkat-tingkat menghuni posisi ini. Sungguh gaji 6,5 juta rasanya tidak sebanding diperoleh Pemimpin Redaksi (Pemred) itu. Namun nasib berkata lain. Pemred berwajah sangar itu sudah tercatat di Lauhil Mahfudz sebagai makhluk kaya.
Jauh dari nominal yang kusebutkan tadi. Tak disadari fikiranku semakin liar berlari-lari dalam kepalaku. Berusaha aku redam gerutu yang semakin meracau. Aku semakin bekerja dibawah pikiran-pikiran dongkol. Aku berusaha membuang hal tersebut dengan kembali mengetik.
Lambat laun pekerjaanku bisa selesai. Di akhir pekerjaanku, ada satu SMS yang menggunakan bahasa singkatan. Wajar pikirku, pasalnya layar HP tidak bisa menampung banyak karakter. Tidak aku ambil pusing. redaksi itu. Beberapa tahun mengenal telepon genggam, mengenal pula karakter tulisan. Termasuk singkatan dalam SMS. Maksud yang jarang meleset untuk mengartikannya secara utuh.
Dengan penuh percaya diri, aku masukan pesan tersebut. Dalam layar tampak jelas, aku mengetik BATU BARU. Huruf yang tertera kapital, begitu menantang memadati mata. Kata itu pula akhir dari pekerjaanku membantu Pemred. Tidak lama berselang, Pemred itu datang. Ia menghampiriku. Aku loncat dari tempat duduk yang akan ditempatinya. Wajah ramah kutunjukkan padanya. Wajah yang sekaligus menantang pekerjaan lain untuk kuselesaikan.
“selesai ga?”. “udah” aku menyahut dengan cepat. Bapak itu hanya membiarkan aku. Tidak diberedel oleh perintah-perintahnya. Sepertinya ia sedang memberikan kesempatan supaya khayalan-khayalan kembali bertamu. Kenyataannya benar, khayalan itu semakin rajin bertandang ke alam pikiranku. Ia bisa berwujud bos, berwujud setan yang mengompori aku agar mencela Pemred itu, atau hanya sekedar mendendangkan alunan kecil, kemana aku makan siang ini. Itulah akibat aktifitasku yang mematung.
***
Tiba waktunya take Daily Report. Seperti aku lakukan di hari-hari sebelumnya, aku berikan naskah pada Operator VTR dan Host. Kemudian aku mangkal di muka layar komputer untuk mengendalikan teleprompter. Operator mempersiapkan backdrop dan kamera kontrol. Seluruh tim siap melakukan take. “Backdrop roll…camera roll…”. Lantas dengan jari lentiknya, Program Director memberi aba-aba. Produksipun dimulai.
Teleprompter aku atur temponya agar nyaman dibaca host. Terkadang akupun harus membaca keseluruhan kalimatnya. Namun dalam tumpukan kalimat yang tenggelam, aku menemukan dua kata, seolah aku digelitik oleh anekdot lucu. Bukan karena kami sedang memproduksi tayangan humor. Lebih dari itu, aku mendapat tamparan namun menggelikan. Tamparan karena kebodohan yang dibalut percaya diri berlebih dan menggelikan untuk dua buah kata nan sederhana.
Kata itu BATU BARU yang aku tulis sebelumnya. Aku simak baik-baik dan aku dengar secara jelas host membacakan BATU BARA dan tertera pula dalam naskah. Kejelian untuk satuan kalimat yang santer dibicarakan orang. BT BR pada pesan pendek begitu mendikotomi kelas antara yang berwawasan dan yang tidak. Empat simbol yang menghuni dua tingakatan khasanah yang bertolak belakang. BATU BARU, sungguh penjabaran. wawasan tak bereferensi. Sedang BATU BARA untuk alasan logis kondisi yang banyak dibicarakan masyarakat.
Kejelian Pemred melihat itu, membuat aku urung berfikir negatif kepada bapak berkepala pelontos itu. Pelajaran, bahwa tidak cukup melihat pekerjaan dari bobot kerjanya saja. Perlu ada kejelian dan wawasan berperundag-undag memahami kondisi yang ada. Sehingga asupan yang didapat, tidak sebatas tumpukan simbol semata, akan tetapi simbol yang berkata-kata pada kondisi nyata.
Selesainya kami produksi, aku semakin hanyut dalam kubangan kebodohan yang memalukan. Hikmah yang menampar dengan empat simbol itu. Jika aku mengingatnya kembali pesan reporter via SMS, aku akan tertawa geli tapi jiji. Jiji untuk BT BR yang dimaksud ternyata bukan Batu Baru tapi Batu Bara. Batu Bara yang mencambukku untuk lebih banyak membaca. Bodoh…
