1/14/2008

Kaya untuk Kaya

Aku baca lembar per lembar buku temanku yang aku pinjam tak sengaja. Mengharu biru, menggebu, penuh penaklukan. Penulis itu membuatku kuyu disemprot guyuran pesan. Penulis yang telah menaklukan kegagahan monument ketidakmungkinan untuk memperoleh sesuatu.. Aku bahkan telah digaet untuk mencoba terlibat dalam perjalanannya. Sarat keabadian.

Ketika membaca, aku seperti mengganda menjadi dirinya. Hatiku diperas, asaku dicambuk berkali-kali untuk berusaha seperti dirinya. Dualisme ‘kaya’ membelah diri yang berarti; seperti, mirip, atau persis. Mentalku mengikatkan pada kamuflase perjalanannya. Layaknya joki limbung yang terjatuh, lalu digusur oleh kuda yang berlari kencang. Berusaha bangkit lalu mengejar!. Aku sadar posisiku jauh dibawah lantai pengalaman dan prestasinya. Aku sadar, aku telah melakoni nyanyian yang sering dinyanyikan Ahmad Albar, sandiwara untuk seperti.

episodeku kali ini mungkin awal cerita dari banyak scene yang ditulis Sutradara. Penuh rintangan, kesedihan, dan berakhir dalam samudra bintang gemintang kesuksesan. Pikirku yang sinetron berat. Bahkan aku sedang mengibas kemungkinan yang muncul mematahkan pikirku tadi. Namun tetap tidak bias disangkal. Film lain seolah membentuk barisan, merubuhkan kemungkinan akhir kesuksesan itu. Memberi pelajaran dengan kejahatan atau mati untuk ketentraman. Film Nomad the Warior semakin menegaskan penaklukan membiaskan bintang gemintang itu. Film itu memuntahkan kembali kemenangan yang kutelan bulat-bulat. Aku khawatir terperosok untuk memerankan tokoh-tokoh yang menjadi pahlawan, kala dirinya ditakdirkan menjadi lawan untuk menopang kedigdayaan sang teman. Tragis.

Aku getir meneropong akhir dari perjalanan yang penuh misteri ini. Penentuan hari H. asaku melompat, menyundul-nyundul untuk jiwa yang terkulai. Malas. Rasanya hanya dewi fortuna yang akan mengangkat derajat itu. Melihat kondisiku, semua orang sepertinya sepakat dengan madzhab kebanyakan. No pain, no gain. Guncangan-guncangan wujud kesuksesan terus membayangiku dari berbagai arah. Lembut tapi mematikan. Killing me softly.

Tapi aku patut bersyukur dengan biusan yang hampir membuatku gila itu. Aku semakin hidup seperti yang seringkali aku lihat dan dengar pada iklan rokok. Aku semakin merasakan saripati hidup. Ujian berkelas yang aku terima. Kendati ujian itu masih jauh dibawah para sahabat ketika perang Uhud yang harus menggadaikan nyawa, harta, dan orang-orang yang dicintanya, namun aku merasakan ujian itu merayap pada posisi peperangan luar biasa itu. Peperangan yang terjadi dalam batin. Pergumulan dan pertempuran yang menyiksa.

Yang membuat aku lebih tersiksa adalah, ketika aku teringat sebuah kisah yang masih hafal betul dimana orang itu bercerita, dalam posisi bagaimana, dan mimik yang seperti apa. Orang itu tidak lain adalah guruku sewaktu SMP. Perawakannya kurus dengan jalan mendayu kaku. Kepalanya sudah dilumuri uban. Matanya terhijab kaca tebal membantu dirinya membaca buku yang digenggam karena tasnya tidak menerima kedatangan buku berukuran gemuk.

Sebut saja namanya Pak Harun. dia bertutur berapi-api. Walau aku tidak dapati dia seperti para mahasiswa yang berorasi di depan mulut kantor pejabat, tapi auranya memancarkan semangat membabi buta. Ia mengisahkan seorang pelajar yang berniat menjaili guru galaknya. Niat menjaili berubah malapetaka. Mesin pemotong tubuh yang tidak begitu jelas aku deskripsikan seperti apa, telah merobek fikirannya. Disinyalir ia meninggal karena guru itu merasa, akhir hayatnya akan berakhir tercincang seperti daun saledri teriris kecil-kecil. Nyatanya tidak demikian, mesin tersebut sedikitpun tidak menyentuh tubuhnya. Kepalang fikirannya melampui keadaan, menyerah, alhasil guru itu tewas mengenaskan. Naas.

Pelajaran pertama, sungguh murid yang tidak memuliakan gurunya. Pelajaran kedua, dahsyatnya imajinasi fikiran. Kisah itu semakin menakut nakutiku. Ditengah perang batin berkecamuk membakar fikiran, kisah sarat nasihat itu seolah meriam yang datang memporakporandakan batinku. Jika aku tidak bisa menaklukan peperangan itu, kalau tidak mati berkeping-keping, minimal musuh yang entah dari kerajaan mana, akan tertawa menang sambil mengibarkan panjinya melihat keadaanku yang lusuh, compang-camping, tertawa tanpa sebab di emper jalan. Menghinakan.

Rupanya aku masih bisa merasakan beban yang bagi sebagian orang tidak begitu difikirkannya. Bahagia dengan posisi dan keadaannya. Seperti kupu-kupu yang hanya menari nari diatas bunga indah berwarna warni untuk dihisap saripatinya. Begitulah ia lakukan sehari-harinya. Tidak berusaha menanam atau dibekal hanya sekedar memberikannya kepada kupu-kupu lain yang sedang kesusahan. Pengaduanku kali ini tidak lebih dari harapan ‘kaya’ yang berarti berjejalnya semua bentuk kesuksesan. Semangati diri.

King Solomon's Mines

Quertemain adalah sosok yang punya andil besar dalam perburuan harta karun. Layaknya dalam kisah-kisah lain, ajang perburuan budak-budak kehendak itu menuai banyak rintangan. Tidak hanya perjalanan yang getir, penuh onak dan keletihan luar biasa, tapi juga mereka harus melewati pertempuran yang sangat dahsyat.

Perjalanan ditengah pemandangan memesona, ternyata hanya layar yang menjembatani penonton untuk dimanjakan. Keutuhan yang memenuhi pandangan mata seolah sedang mengelabui kita untuk mendekat dan kemudian secara perlahan mati mengenaskan. Pemandangan antara padang putih yang dilengkapi biru langit mendamaikan dengan kumpulan awan berrindih-tindih bak dua posisi sedang membatasi daerahnya tak mau diganggu.

Itulah Desert, daerah tentram namun pesakitan. Tenggorokanpun tidak akan betah dibiarkan menghirup perjalanan melelahkan itu. Air yang menggenang sudah dipastikan sesuatu paling berharga dibanding benda lain setara barang-barang mahal. Perjalanan itulah yang sedang dilalui oleh Quertemain yang menewaskan satu temannya, yaitu Henry.

Demi menolong kakek yang ditawan untuk prosesi kuakuani-sebutan acara pembunuhan suku pedalaman afrika dekat Cape Town untuk ritual. Mereka bertujuh melanjutkan perjalanan. Perjalanan penuh resiko karena disamping harus menggadaikan nafsu mereka terhadap harta karun, namun juga mereka harus berurusan, tidak hanya suku-suku pedalaman yang siap menombak tubuh mereka, tapi juga ada rival lain yang menggenapkan diri dalam kelompok pencari harta karun. Tidak jarang, letusan senapan akrab dalam perjalanan mereka.

Yang paling penting dalam cerita ini adalah bersatunya dua lawan jenis di tempat, dimana setiap orang akan terbuai dengan kilau cahaya mengkilap-kilap biru pada batu kecil yang tersimpan indah di mahkota Sheba. Sheba menjadi cerita penting dalam perjalanan mereka, pasalnya Sheba adalah orang yang mendampingi raja Solomon, terkunci dalam ruangan berlimpah ruah harta karun. Keabadian cerita itu dilanjutkan oleh Quertemain yang melamar wanita, seorang gadis, putri, kakek yang akan ditebas suku si “nolomos”.

Sepertinya pernikahan itulah yang sangat penting dalam perburuannya. Quertemain sudah ditinggal lama istrinya, meninggal dunia. Disaat moment penting dihadapan patung Solomon dan Sheba, mereka mencurahkan isi hatinya untuk mengawali hidup menjadi suami istri. Jauh dari perjalanan yang getir tak terperi, rupanya ada harta karun yang lebih berharga daripada kilauan butir menumpuk, menggunung, berkilauan, yaitu keutuhan keluarga yang lama Quertemain dambakan.