Bagaiamana tidak, event ini adalah pertaruhan soal gengsi. Dari privasi sampai lembaga, tempat dimana aku dipercaya. Kepercayaan yang tidak akan pernah aku sia-siakan. Aku akan buktikan dengan segenap kemampuan, bahwa aku bisa. Aku tersadar tengah melakoni jiwa-jiwa pembesar. Sungguh tidak mudah untuk melewatinya. Namun jika aku dapat melaluinya dengan baik, maka tak ada kata yang pantas untuk menukar kepuasan itu. Pikirku menyemangati.
Benar saja, di titik nadir saripati hidup yang dirasakan olehku ternyata cukup merepotkan mental. Hampir seluruh waktuku tertumpah pada wadah yang sama. Porsi tidur sebagian diambil alih oleh mimpi-mimpi kesuksesan event yang masih maya. Sungguh titik yang merontokkan tubuh secara perlahan. Hal yang secara otomatis menciutkan tubuh. Kendati ada banyak hal membuatku tersenyum, namun itu tak berlangsung lama. Kening kembali berkerut. Tidak lama kemudian kembali pada kebiasaanku menjengut rambut.
***
Tiba saatnya event itu dilaksanakan. Acara-demi acara memberi kesan mendalam.
Selesainya acara, teman-teman saling komentar prihal acara itu. Tidak banyak membekas pada telinga tentang kekurangan-kekurangan dalam event tersebut. Terang saja itu membuatku melayang. seolah diangkat oleh hembusan angin mengangkatku penuh cinta. Komentar baik seolah hadiah spesial bagiku. Akhir yang banyak diburu kebanyakan orang pikirku.
Lama menikmati euforia kebahagiaan, seiring waktu hal itu tersimpan dalam sejarah hidupku. Ia hanya pemantik, kala aku ingin menjalankan aktifitas serupa pada kegiatan lain. Ternyata kebahagiaan itu perangsang untuk merangkai tindakan-tindakan monumental lainnya. Jiwa akan terus memanggil kala prestasi satu demi satu kupegang. Prestasi yang menjadi pijakan langkah untuk kuayun lebih banyak.
Mungkin itulah yang dirasakan kala keberhasilan begitu menggoda untuk terus mengejar keberahsilan lainnya. Akupun sering menggelitik pikiranku untuk nyinyir, apakah ini yang dirasakan para pahlawan? Tindakan yang tak pernah terhenti untuk menikmati rasa puasnya. Jika saja gelar itu bisa didapat di akhir perkuliahan, maka aku salah satu yang ingin jadi mahasiswanya. Namun sayang, gelar itu terlalu agung hanya untuk title pada akhir pendidikan formal. Gelar yang tidak bisa dihuni oleh rata-rata orang. Penegasan gelar yang tidak sembarang.
Kepuasan yang tidak diukur dari kesenangan rata-rata orang. Kendati semua bermuara pada kebahagiaan orang yang menjalankan. Terkadang secara kasat mata ia menampilkan sosok yang mengkhawatirkan. Lebih dari itu seolah ia tenggelam dalam duka yang berkepanjangan. Tapi mungkin dalam satu titik, ia menjadi orang yang paling bahagia. Mungkin itu yang membedakan ia dengan orang bernasib sial lainnya. Ia akan menantang terus saripati hidup yang hampir mencekik atau bahkan ia harus mati di pangkuan usahanya. Berbeda dari mereka yang dirundung kesedihan karena tak bisa lari dari kenyataan pahit hidupnya. Semakin terjerat, semakin pasrah dan semakin ia menjerit liar. Pahlawan itu bukan sedang mencari mati. Tapi ia sedang mensyukuri dan menikmati potensinya
Kutahu sekarang sedikit hal tentang kehidupan pribadi para pahlawan. Ia akan tersenyum manakala bumi menimpuk dirinya hingga tak kuasa melawannya lagi. Karena ia tahu titik kuasanya telah dilumpuhkan oleh kegagahan bertingkat-tingkat diatasnya. Yang terpenting dari hidupnya adalah usaha terbaik. Tidak jadi soal akhir dari perjalanan itu hidup atau mati. Karena kepuasannya adalah kemenangannya. Pengerahan usaha yang maksimal jauh melampui dua kemungkinan akhir perjalanannya itu. Karena hidup atau mati, dia tetap puas, kendati kemampuannya terkuras habis. Sampai kepada tenaganya disisakan hanya untuk menyunggingkan bibir. Untuk tersenyum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar